Penterjemah: Arif Syibromalizi, Lc.
Acara El Syariah wal Hayat Bag. II
21.25 – 44.35
PA:Assalamu alaikum warahmatullah. Selamat Datang di acara El Syariah wal Hayat, Episode malam ini seputar masa depan Bahasa Arab. Sebagian masyarakat Arab memandang remeh Bahasa Arab dan penggunanya.. Apakah hal tersebut menyebabkan adanya kekhawatiran akan masa depan Bahasa Arab di negri Arab?
YQ: Yang jelas, perlu dibedakan antara ketakutan dan keterkejutan. Boleh-boleh saja seseorang merasa khawatir dan berusaha menepis bahaya musnahnya Bahasa Arab dengan meneriakkan jargon: “Selamatkan dan permudahlah pengajaran Bahasa Arab. Pilihlah guru-guru yang mumpuni, serta berilah mereka gaji yang pantas”. Karena terkadang terjadi, banyak guru Bahasa Arab yang hanya menerima gaji kecil. Suatu hari saya pernah berkata kepada mereka, bahwa orang yang paling sengsara adalah pegawai. Dan pegawai yang paling sengsara adalah guru. Dan guru yang paling sengsara adalah guru agama dan Bahasa Arab, karena mereka tidak menerima hak-haknya yang pantas. Akan tetapi saat ini saya yakin semua hak guru telah terpenuhi. Pandangan masyarakat terhadap guru Bahasa Arab lahir dari rasa hormat masyarakat terhadap bahasanya, khususnya Bahasa Arab yang merupakan bahasa mulia. Hal ini dilihat dari karakter, komponen, keistimewaan, ilmu derivasi serta kekayaan Bahasa Arab seperti banyaknya sinonim dan kosakata untuk satu makna. Lihatlah, berapa kosakata untuk 'pedang'. Berapa kosakata untuk makna 'kham/ (arak). Berapa kosakata untuk onta. Juga dalam Bahasa Arab, setiap tingkatan umur mempunyai nama tertentu, seperti bintu makhad, bintu labun dan lain-lain. Sampai kosakata untuk makna-makna psikologis/kejiwaan, seperti cinta dan sebagainya. Juga setiap fase perkembangan kejiwaan manusia mempunyai nama masing-masing dalam Bahasa Arab. Anda tidak akan menemukan kekomplekan seperti ini dalam bahasa lain. Perkataan saya ini bukan didorong oleh fanatisme terhadap Bahasa Arab, akan tetapi hasil dari penelitian ilmiah menyatakan bahwa Bahasa Arab adalah bahasa istimewa. Dan tidak heran jika Allah swt memilihnya sebagai bahasa Alquran yang tidak dapat ditandingi oleh Bangsa Arab. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi umat islam untuk menjunjung bahasanya dan memenuhi hak-haknya.
PA: Banyak orang yang meremehkan bahasa Arab dan bangga dengan bahasa asing beralasan/beranggapan bahwa bahasa Arab tidak dapat mengimbangi kemajuan ilmiah dan bahkan kebanyakan universitas-universitas Arab yang mengajarkan sains, mereka menggunakan bahasa selain Arab. Dimanakan kesalahan bahasa Arab di sini?
YQ: Kesalahannya terdapat dalam paradigma dan kemauan umat. Tidak ada kemauan yang keras untuk mengajarkan bahasa Arab. Seperti saya jelaskan bahwa peradaban Islamlah yang telah menciptakan sains. Bahkan dahulu negara-negara Eropa seperti Spanyol dan lain-lain berdatangan untuk mempelajari bahasa Arab dan ilmu pengetahuan yang berbahasa arab. Bahkan seseorang dianggap maju dan berpendidikan jika dia memasukkan kata-kata bahasa Arab dalam percakapannya, seperti yang terjadi saat ini. Seseorang dianggap modern jika ucapannya banyak disisipi kata Inggris, Perancis, Jerman yang menunjukkan bahwa dia seorang yang berpendidikan. Begitulah bahasa Arab dahulu. Dan ini bukan kelemahan bahasanya, akan tetapi kelemahan penggunanya. Lihat saja saudara-saudara kita yang belajar kedokteran di Syiria, mereka bisa menggunakan bahasa Arab dalam mempelajari kedokteran.
PA: Fenomena lemahnya penggunaan bahasa Arab saat ini mengingatkan kita pada membuminya bahasa Arab sewaktu terjadi penjajahan di dunia Arab yang berusaha mengikis bahasa Arab dan menggantinya dengan bahasa mereka. Dewasa ini, terjadi kemunduran dalam melawan keterasingan bahasa Arab dengan alasan globalisasi. Apakah benar globalisasi memaksa Bangsa Arab untuk lebih memperhatikan bahasa asing daripada bahasa pribumi?
YQ: Ya, mungkin benar seperti itu. Akan tetapi sama sekali tidak ada pemaksaan. Sebuah bangsa yang kuat tidak dapat dipaksa oleh bangsa lain. Perancis ketika menjajah Aljazair berusaha menduduki Aljazair. Mereka berusaha kuat untuk membunuh karakter utama bangsa Aljazair, yaitu agama dan bahasa Arab. Akan tetapi rakyat dan ulama Aljazair tidak tinggal diam dan melakukan perlawanan. seperti syeikh Abd Hamid Badis, Jamiyyah Ulama, Basyir ibn Ibrahim dan lain. Syeikh Abd Hamid sendiri mengarang nasyid yang menanamkan kecintaan terhadap agama dan bahasa Arab kepada siswa dan anak-anak. Nasyid itu berbunyi: "Bangsa Aljazair adalah muslim # dan kepada Arab mereka berafiliasi. Barangsiapa berkata "ini keturunan saya" dan mati, maka dia telah berdusta". Jadi, agama dan bahasa (Islam dan Arab) yang menjadi identitas. Dan umat harus selalu menjaga identitasnya itu, yang di antaranya ditandai dengan memegang teguh bahasanya. Jika suatu bangsa bersikap acuh terhadap bahasanya, maka berarti ia telah meremehkan identittasnya, sehingga menjadi bangsa asing yang terlepas dari kulitnya.
COMMERCIAL BREAK
PA: Kita akan mendengar beberapa komentar dan pertanyaan dari pemirsa di rumah. Pertama dari Bpk Kamal Syukri dari Jerman. Silahkan..
KS: Terimakasih kepada saudara Abd Shomad dan kepada Dr. Yusuf Qardhawi yang acaranya selalu saya ikuti. Pertanyaan saya seputar permainan kata-kata yang terjadi di beberapa chanel TV. Saya sering mendapati--bahkan dalam iklan--adanya kesalahan dalam membedakan kata "peradaban" dan 'kemajuan ilmiah'. Ketika salah satu perusahaan mengiklankan air dan listrik, mereka menamakannya dengan peradaban dan kemajuan. Jelas sekali, air dan listrik adalah produk kemajuan pengetahuan, bukan peradaban.
PA: Pertanyaan anda?
KS: Pertanyaannya adalah apakah benar penamaan perusahaan air dan listrik ini sebagai peradaban? Pertanyaan kedua adalah tentang bahasa Arab. Sekarang ini bahasa Arab di Kairo menjadi bahasa resmi dalam kelas di sekolah-sekolah. Hal ini menurut saya adalah suatu keputusan politik yang penting yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan revolusi pada waktu Kepemimpinan Gamal Abd Nasir, sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Qordhowi.
PA: Dari Syiria, silahkan Abu Ishak al Hamawi
AIH: Assalamu alaikum, salam sejahtera untuk sdr Abd. Shamad dan Dr. Yusuf Qardhawi (semoga Allah selalu menjaganya). Saya bekerja di Doha. Ada beberapa pihak yang mensyaratkan bisa berbahasa Inggris jika ingin bekerja di tempatnya. Ada juga yang memberi gaji lebih kepada orang yang bisa berbahasa Inggris.
PA: Saya kira Dr. Yusuf Qordhawi telah membicarakan masalah seputar pensyaratan bahasa Inggris bagi pelamar kerja ini. Terimakasih Abu Ishak. Selanjutnya, Rasyid Al Ubaidah dari Swiss, silahkan…
RS: Assalamu alaikum..Tema kali ini sangat baik sekali dan semoga Allah memanjangkan umur Syeikh Yusuf Qardhawi. Semoga Allah memberi balasan atas ilmunya. Saya melihat di Eropa terdapat teori pendidikan, ketika anak menginjak kelas satu SD dan mengalami kelemahan dalam bahasa Jerman atau Perancis, mereka menyempurnakan bahasa tanah air dahulu. Mereka berkata, pengantar awal untuk berbahasa adalah dengan mempeajari bahasa tabah air. Artinya, seorang anak seharusnya mempelajari bahasa aslinya terlebih dahulu, sebelum mempelajari bahasa lain.
PA: Pertanyaannya?
RS: Pertanyaannya adalah mengapa di negara Arab justru yang terjadi sebaliknya?.
PA: Ya, kita telah membicarakan hal itu. Terimakasih saudara Rasyid. Apakah ada komentar dari anda, Dr. Yusuf?
YQ: Untuk tadi yang mengkritik penggunaan kata yang kurang tepat dan tidak cermat dalam memberi istilah, hal ini berhubungan dengan tingkat pengetahuan seseorang, bukan pada bahasanya. Seseorng yang punya pengetahuan yang tinggi, pasti akan cermat dalam memilih istilah, apalagi istilah-istilah yang punya implikasi besar, seperti kata Hadlarah (peradaban), Tsaqofah dan lain-lain. Akan tetapi saya ingin mengkritik hal yang lebih sederhan dari itu, yaitu hilangnya unsur-unsur bahasa Arab. Seperti ilmu nahwu, yang tidak lagi dipakai sebagai ukuran bahasa. Anda mendengar misalnya seseorang berkata (dalam bahasa Arab) dengan merafa'kan maf'ul atau menasabkan fa'il, atau huruf jar yang tidak men-jer-kan kata setelahnya. Perlu diperhatikan prioritas ilmu nahwu. Bahkan ada orang yang kemudian mengkritik Imam Sibawaih. Walau Sibawaih bukan orang arab, tapi beliau telah membantu bahasa Arab. Mereka mengkritik bahwa Sibaiwaih dan ulama sebelumnya telah memperumit dan berfilosofi dalam ilmu nahwu dan sebagainya. Kemudian ada juga Ibn Madhail al Andalusi yang mengarang taysir al nahwi (pemudahanan ilmu nahwu), juga usaha-usaha lain dewasa ini yang berusaha meyederhanakan kaidah-kaidah bahasa arab (nahwu dan shorof). Lembaga-lembaga bahasa juga berusaha untuk mempermudah bahasa Arab, atau memilih kata-kata--bahkan dari kata ‘amiyah (pasaran) dan melegimitasi penggunaannya di masayarakat.
COMMERCIAL BREAK
PA: Salah seorang penulis berkata: “Bagi yang merasa berat atau susah mempelajari bahasa Arab, saya harap jangan cemas. Karena kesalahan bukan pada anda, akan tetapi pada bahasa Arab yang tidak tersentuh oleh perkembangan zaman". Seberapa jauh kebenaran pernyataan ini?
YQ: Saya kira pernyataan seperti ini, yang mengkritik Sibawaih dan menyandarkan kesalahan pada Sibawaih, adalah pernyataan yang tidak perlu dihiraukan. Seperti yang telah saya tegaskan bahwa kesalahan terdapat pada kita sebagai pengguna bahasa. Kita tidak serius berusaha mempermudah/ mensistematisasi pembelajaran bahasa Arab. Memang terjadi sedikit pensistematisasian. Seperti dahulu kita belajar ilmu nahwu di Ibtidaiyyah (SD), Tsanawiyah (SMP) dan Al Azhar sebanyak 6 kali, dengan rujukan kitab-kitab utama. Ketika di Ibtida’iyyah (SD), kita belajar nahwu 4 kali, kitab syarah al ajurumiyyah, syarah azhariyah, dan syarah qothr al nada wa ball al shoda ibn Hisyam, syarah syujur al dzahab fi syarh kalam al arab. Empat kitab rujukan utama ini kita pelajari di ibtidaiyyah (SD). Setelah itu muncul kitab-kitab ringkas seperti Nahw al wadhih karangan Ali al Jazim, al Balaghah al wadhiah dan lain-lain. Setiap generasi terdapat pensistematisasian bahasa Arab, akan tetapi umat Islam tidak memanfaatkan dengan semestinya. Hal ini disebabkan umat Islam tidak memberi hak yang semestinya pada bahasa. Terkadang umat Islam beranggapan bahwa bahasa bukan sesuatu yang utama. Ini adalah bentuk kesewenang-wenangan/ kezaliman terhadap bahasa Arab yang telah mengangkat derajat kita.
PA: Sejauh mana pengaruh penomorduaan bahasa arab dan lebih mendalami bahasa asing dengan alasan merupakan bahasa peradaban terhadap keterikatan dan hubungan antar individu dan umat?
YQ: Seperti yang saya katakana, bahw jika umat merasa hina, maka hina juga bahasanya.Karena bahasa mencerminkan identitas dan kekuatan umatnya. Jika umat merasa kuat, maka bahasa ikut menjadi kuat. Khusunya bahasa arab yang merupakan bahasa mulia, dengan bukti menjadi bahasa Alquran dan banyaknya negara yang mempelajari bahasa Arab sebagai bentuk ibadah kepada Allah tanpa tekanan umat arab. Bahasa arab menyebar dengan sendirinya.
PA: Banyak negara Eropa yang melarang memasang plang atau iklan denga bahasa asing, seperti di Perancis dan Jerman. Bahkan presiden Perancis pernah mencela salah menterinya ketika mengunjungi suatu negara dan berceramah dengan selain bahasa Perancis. Sebaliknya, kita lihat para pejabat kita ketika mengunjungi suatu negera, mereka malah bangga menggunakan bahasa asing. Apakah hal ini menunjukkan kita tidak percaya diri dengan bahasa kita. Lebih jauh lagi, di sebagian negara Arab terdapat keluarga yang mgnggunakan bahsa asing sebagai bahasa komunikasi diantara anggota keluarga mereka?
YQ: Inilah yang sangat disayangkan dan menunjukkan kelemahan umat Islam. Seandainya saja umat Islam menyadari kehebatan dan kekuatan mereka, maka bahasa pasti akan terangkat bersamanya. Sudah seharusnya untuk para ibu dan bapak menganjurkan anak-anaknya berbicara bahasa Arab, dimulai dengan tingakat bahasa yang mudah. Sebagian kaum muslim berkeyakinan bahwa bahasa Arab itu bahasa yang sulit, berat dan terjal. Padahal kita tahu, koran-koran dan majalah semua berbahasa Arab fusha (baku) dan dibaca oleh seluruh masyarakat. Mereka tidak kesulitan membacanya. Belum lagi radio dan televesi. Aljzairah seindiri menyuguhkan selutuh berita dan acara-acarannya dengan bahasa Arab. Semua dipahami oleh masyarakat. Jadi, tuduhan bahwa bahasa Arab itu bahasa yang rumit, sulit dan tidak bisa dipahami adalah tuduhan yang tidak benar,
PA: Bagaimana mengembalikan kepercayaan kita terhadap bahasa Arab?
YQ: Semua pihak harus bekerjasama, dimulai dari institusi keluarga, sekolah, lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran, universitas, pusat-pusat studi, kementrian penerangan, dan lembaga penyiaran, karena saya sering temukan banyak acara-acara yang menggunakan bahasa ‘amiyah (pasaran). Belum cukupkah bahasa ‘amiyah itu digunakan di film, sinetron, sandiwara, lawakan dan lain-lain. Menggunakan bahasa pasaran berarti mempersempit ruang bahasa Arab. Semua harus mengemban tanggunjawab itu. Tapi terkadang, kita membngun, malah yang lain menghancurkan. Seperti perkataan syair: "Kapan bangunan itu akan berdiri # jika kamu membangun sedangkan yang lain menghancurkan. Ya karena menghancurkan itu lebih mudah daripada membangun. Saat ini, menghancurkan cukup dengan bom, bukan lagi dengan kampak. Oleh karena itu, menghancurkan itu mudah tapi berbahaya. Kita harus mengajari umat bagaimana menjaga bahasanya agar dapat menjaga identitas dan keunikannya.
PA: Barakallahu fikk..Sayang sekali waktunya sangat sempit, padahal banyak sekali yang belum dibicarakan. Terimakasih untuk anda dan pemirsa sekalian. Kita berjumpa kembali minggu depan insyaallah.
Selasa, Februari 24, 2009
Kamis, September 25, 2008
Pemancing Cilik
Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang
bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali
tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat
sangat menikmati permainannya.
Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman
tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap
kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman
asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit.
Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.
Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan
hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba
mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si
anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan?
Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta
ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman
ramah.
"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.
"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil
melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan
kepadamu, kenapa engkau tolak?"
"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa
memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana
caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.
"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing
engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini.
Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing
ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"
Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai
untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan,
melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail
pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk
memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan
ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan
anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil
tangkapan berada diujungnya.
Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian
melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali,
melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail
dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.
Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya
bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya
begini saja atau masih ada jurus yang lain?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar
anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih
adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada
tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar
memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang
hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik.
Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang
kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."
Pembaca yang budiman,
Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih kesuksesan
kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit, semua sederhana saja,
Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian mampu
memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal, terutama dengan
menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka kita akan bisa
mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan. Apalagi, jika semua
hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan penuh kesungguhan.
Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan kita secara konsisten,
maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita untuk menjadi ahli di
bidang yang kita kuasai. Sehingga, dengan profesionalisme yang kita
miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan membuahkan hasil yang
paling memuaskan.
Salam sukses, luar biasa!!!
Sumber: Pemancing Cilik oleh Andrie Wongso
bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali
tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat
sangat menikmati permainannya.
Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman
tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap
kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman
asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit.
Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.
Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan
hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba
mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si
anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan?
Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta
ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman
ramah.
"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.
"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil
melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan
kepadamu, kenapa engkau tolak?"
"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa
memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana
caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.
"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing
engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini.
Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing
ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"
Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai
untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan,
melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail
pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk
memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan
ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan
anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil
tangkapan berada diujungnya.
Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian
melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali,
melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail
dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.
Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya
bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya
begini saja atau masih ada jurus yang lain?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar
anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih
adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada
tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar
memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang
hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik.
Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang
kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."
Pembaca yang budiman,
Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih kesuksesan
kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit, semua sederhana saja,
Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian mampu
memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal, terutama dengan
menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka kita akan bisa
mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan. Apalagi, jika semua
hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan penuh kesungguhan.
Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan kita secara konsisten,
maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita untuk menjadi ahli di
bidang yang kita kuasai. Sehingga, dengan profesionalisme yang kita
miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan membuahkan hasil yang
paling memuaskan.
Salam sukses, luar biasa!!!
Sumber: Pemancing Cilik oleh Andrie Wongso
Selasa, Agustus 05, 2008
Resensi Buku Arkanul Islam
Judul Buku : Arkanul Islam
Karya : Dr. Abdullah Mahmud Syahatah
Penerbit : Maktabah al-Usrah, Kairo Mesir
Dilandasi sebuah hadits Nabi Muhammad yang sangat masyhur: "Islam dibangun atas lima pondasi; persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan dan haji", penulis buku ini, Abdullah Syahatah melihat urgensitas umat Islam mempelajarinya.
Secara ringkas, penulis mendeskripsikan lima pondasi ini dalam mukaddimahnya. Pondasi pertama; pengakuan terhadap eksistensi dan keesaan Allah serta Muhammad adalah utusan Allah yang telah menjalankan misi dan amanat yang telah diembankan kepadanya.
Pondasi kedua; shalat sebagai ikatan jiwa antara khalik dengan makhluk-Nya. Shalat adalah ibadah yang dapat menghadirkan kebesaran Tuhan di hati manusia. Di samping shalat jamaah dan jum'ah yang dapat dijadikan simbol ikatan dan persatuan kaum muslimin, juga sebagai sarana untuk saling mengenal dan bekerjasama. Shalat juga dapat menyucikan diri dari perbuatan maksiat.
Pondasi ketiga; zakat adalah aturan Tuhan yang mengandung pendidikan bagi orang kaya, kasih sayang terhadap fakir miskin, pensyukuran nikmat Allah dan sarana untuk mencegah manusia terjerumus ke dalam berbagai penyakit jiwa seperti iri dan pelit.
Pondasi keempat; puasa adalah sarana untuk mendidik jiwa dan membebaskannya dari lingkaran nafsu. Sebagai bentuk pengendalian diri dari segala keinginan serta membebaskan hati dari sifat egoisme. Dan menjadi orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah.
Pondasi kelima; haji adalah konferensi terbesar yang mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia tanpa membedakan jenis, ras dan warna kulit. Dengan berkumpulnya umat Islam di satu tempat, bersama-sama dalam berdoa, menjadi sarana untuk memperkuat tauhid.
Menjadi jelaslah bahwa tujuan dari lima pondasi Islam itu tidak lain adalah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan manusia, karena seluruh pondasi itu merupakan sarana dan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Buku ini memuat lengkap keempat ibadah di atas, yaitu shalat, zakat, puasa dan haji dengan penjelasan yang konkrit dan jauh dari kesan bertele-tele. Sehingga buku ini sangat cocok sekali bagi orang yang ingin mengetahui dan mendalami ibadah-badah dalam Islam.
Dalam daftar isi buku, penulis terlihat sangat ingin menjelaskan berbagai ibadah-ibadah itu dengan detail agar pembaca mendapatkan referensi yang komprehensif dan integral.
Arif Syibromalizi, Lc.
Karya : Dr. Abdullah Mahmud Syahatah
Penerbit : Maktabah al-Usrah, Kairo Mesir
Dilandasi sebuah hadits Nabi Muhammad yang sangat masyhur: "Islam dibangun atas lima pondasi; persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan dan haji", penulis buku ini, Abdullah Syahatah melihat urgensitas umat Islam mempelajarinya.
Secara ringkas, penulis mendeskripsikan lima pondasi ini dalam mukaddimahnya. Pondasi pertama; pengakuan terhadap eksistensi dan keesaan Allah serta Muhammad adalah utusan Allah yang telah menjalankan misi dan amanat yang telah diembankan kepadanya.
Pondasi kedua; shalat sebagai ikatan jiwa antara khalik dengan makhluk-Nya. Shalat adalah ibadah yang dapat menghadirkan kebesaran Tuhan di hati manusia. Di samping shalat jamaah dan jum'ah yang dapat dijadikan simbol ikatan dan persatuan kaum muslimin, juga sebagai sarana untuk saling mengenal dan bekerjasama. Shalat juga dapat menyucikan diri dari perbuatan maksiat.
Pondasi ketiga; zakat adalah aturan Tuhan yang mengandung pendidikan bagi orang kaya, kasih sayang terhadap fakir miskin, pensyukuran nikmat Allah dan sarana untuk mencegah manusia terjerumus ke dalam berbagai penyakit jiwa seperti iri dan pelit.
Pondasi keempat; puasa adalah sarana untuk mendidik jiwa dan membebaskannya dari lingkaran nafsu. Sebagai bentuk pengendalian diri dari segala keinginan serta membebaskan hati dari sifat egoisme. Dan menjadi orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah.
Pondasi kelima; haji adalah konferensi terbesar yang mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia tanpa membedakan jenis, ras dan warna kulit. Dengan berkumpulnya umat Islam di satu tempat, bersama-sama dalam berdoa, menjadi sarana untuk memperkuat tauhid.
Menjadi jelaslah bahwa tujuan dari lima pondasi Islam itu tidak lain adalah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan manusia, karena seluruh pondasi itu merupakan sarana dan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Buku ini memuat lengkap keempat ibadah di atas, yaitu shalat, zakat, puasa dan haji dengan penjelasan yang konkrit dan jauh dari kesan bertele-tele. Sehingga buku ini sangat cocok sekali bagi orang yang ingin mengetahui dan mendalami ibadah-badah dalam Islam.
Dalam daftar isi buku, penulis terlihat sangat ingin menjelaskan berbagai ibadah-ibadah itu dengan detail agar pembaca mendapatkan referensi yang komprehensif dan integral.
Arif Syibromalizi, Lc.
Rabu, Juli 16, 2008
Mengakui Kesalahan
"Saya melakukan sebuah kesalahan dengan melakukan hubungan tak sepantasnya dengan Lewinsky. Dalam kenyataannya, itu adalah sebuah kesalahan. Saya telah menyesatkan banyak orang, termasuk istri saya sendiri. Saya sangat menyesal."-- Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat
SENGAJA atau tidak, kesalahan telah dilakukannya. Tak ada jalan lain, dia harus mengambil keputusan. Akhir Mei lalu, Menteri Luar Negeri Kanada, Maxime Bernier memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Bernier, entah sengaja atau teledor, telah meninggalkan dokumen rahasia di rumah bekas kekasihnya. Terlalu sulit untuk mencari tahu bagaimana sebuah dokumen rahasia bisa jalan-jalan sampai ke rumah bekas pacarnya. Lagi pula, itu tidaklah penting. Entah apa motifnya, itu juga gelap. Yang jelas, sang bos, Perdana Menteri Kanada Stephen Harper marah besar dengan kesalahan yang dilakukan anak buahnya itu. ”Itu kesalahan amat serius yang dilakukan seorang menteri. Kami harus selalu menerima tanggung jawab atas dokumen rahasia. Menteri langsung mengakui betapa beratnya kesalahan ini."
Di dalam media cetak dan elektronik di sana, berita tentang pengunduran diri Bernier menjadi isu utama. Bernier pun mengakui kesalahan fatal yang dilakukannya. Namun tentu tak semudah itu keputusan tersebut diambil. Keteledoran, apa pun sebabnya, tentu akan membuat banyak perkara dalam hidup seseorang. Dengan keputusan itu, Bernier telah mengambil segala risiko: malu pada keluarga, diledek lawan politik, dan tentu saja karir politiknya, yang sudah jelas dibangun dalam jangka waktu yang tidak sebentar, ambruk seketika.
Harus diakui, mengakui kesalahan bukanlah perkara yang mudah. Coba sekarang benamkan diri kita masing-masing pada peristiwa yang telah berlalu. Semisal ketika seorang teman yang kena damprat orang tuanya gara-gara kelakuan kita. Di masa muda, tentu kita pernah pergi ke pesta ulang tahun kawan. Saat kita yang sedang berpesta, tentu tak ingin kawan-kawan pulang lebih dulu. Akhirnya, kita tahan mereka. Namun, di luar pengetahuan kita, keesokan harinya, kita tahu seseorang dari mereka kena damprat papa dan mamanya karena pulang larut malam. Nah, apakah kita mau mendatangi rumah orang tuanya, lalu menjelaskan semuanya dan mengakui semua kesalahan itu berawal dari keinginan kita karena menahannya pulang. Banyak dampaknya dari pengakuan kita itu. Boleh jadi, kita malah kena damprat pula atau dianggap sebagai biang keladinya.
Dalam pekerjaan sehari-hari pun sebuah kesalahan bisa terjadi. Seorang kawan mengakui bahwa ia lupa untuk mengirimkan proposal pengajuan penawaran balik ke perusahaan rekanan. Karena waktunya terlambat dari dateline yang telah ditentukan, proposal penawaran yang dikirim secara menyusul pun menjadi tidak berarti. Alhasil, proposal pun ditolak. Sang rekan pun dipanggil oleh atasan menanyakan mengapa keterlambatan bisa terjadi. Dengan menyesal sang rekan mengatakan bahwa ia benar-benar lupa untuk melakukan hal itu karena terfokus oleh pekerjaan lain. Apapun alasannya, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan. Dengan penuh tanggung jawab, sang rekan pun mengakui kesalahannya dan siap menerima konsekuensi dari perusahaannya.
Apa yang dilakukan sang rekan tersebut sudah benar, bahwa ia tidak lari dari tanggung jawab. Pada saat itulah, sebenarnya kita ditantang untuk mengakui kesalahan, dengan taruhannya: diberi kesempatan sekali lagi untuk tetap bekerja di kantor itu, atau surat pemutusan hubungan kerja yang akan diberikan pihak manajemen.
Sebuah pilihan yang sulit tentu saja. Namun, marilah kita jujur pada nurani kita sendiri. Saat sekali dalam hidup, kita mengakui kesalahan yang kita lakukan, di lain waktu kita akan terjaga untuk tidak mengulanginya. Tentunya karena kita paham, akibat dari kesalahan yang kita lakukan dapat berakibat buruk pada orang lain. Namun, bila kita terbiasa untuk enggan mengakui kesalahan, sudah barang tentu, kesalahan-kesalahan akan kerap terus dilakukan, sambil otak terus berpikir untuk mencari kambing hitam yang bisa menjadi sasaran kesalahan.
Pada akhirnya, pilihan yang kita ambil, menunjukkan jati diri dan kualitas kita yang sebenarnya. (070708)
Sumber: Mengakui Kesalahan oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
SENGAJA atau tidak, kesalahan telah dilakukannya. Tak ada jalan lain, dia harus mengambil keputusan. Akhir Mei lalu, Menteri Luar Negeri Kanada, Maxime Bernier memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Bernier, entah sengaja atau teledor, telah meninggalkan dokumen rahasia di rumah bekas kekasihnya. Terlalu sulit untuk mencari tahu bagaimana sebuah dokumen rahasia bisa jalan-jalan sampai ke rumah bekas pacarnya. Lagi pula, itu tidaklah penting. Entah apa motifnya, itu juga gelap. Yang jelas, sang bos, Perdana Menteri Kanada Stephen Harper marah besar dengan kesalahan yang dilakukan anak buahnya itu. ”Itu kesalahan amat serius yang dilakukan seorang menteri. Kami harus selalu menerima tanggung jawab atas dokumen rahasia. Menteri langsung mengakui betapa beratnya kesalahan ini."
Di dalam media cetak dan elektronik di sana, berita tentang pengunduran diri Bernier menjadi isu utama. Bernier pun mengakui kesalahan fatal yang dilakukannya. Namun tentu tak semudah itu keputusan tersebut diambil. Keteledoran, apa pun sebabnya, tentu akan membuat banyak perkara dalam hidup seseorang. Dengan keputusan itu, Bernier telah mengambil segala risiko: malu pada keluarga, diledek lawan politik, dan tentu saja karir politiknya, yang sudah jelas dibangun dalam jangka waktu yang tidak sebentar, ambruk seketika.
Harus diakui, mengakui kesalahan bukanlah perkara yang mudah. Coba sekarang benamkan diri kita masing-masing pada peristiwa yang telah berlalu. Semisal ketika seorang teman yang kena damprat orang tuanya gara-gara kelakuan kita. Di masa muda, tentu kita pernah pergi ke pesta ulang tahun kawan. Saat kita yang sedang berpesta, tentu tak ingin kawan-kawan pulang lebih dulu. Akhirnya, kita tahan mereka. Namun, di luar pengetahuan kita, keesokan harinya, kita tahu seseorang dari mereka kena damprat papa dan mamanya karena pulang larut malam. Nah, apakah kita mau mendatangi rumah orang tuanya, lalu menjelaskan semuanya dan mengakui semua kesalahan itu berawal dari keinginan kita karena menahannya pulang. Banyak dampaknya dari pengakuan kita itu. Boleh jadi, kita malah kena damprat pula atau dianggap sebagai biang keladinya.
Dalam pekerjaan sehari-hari pun sebuah kesalahan bisa terjadi. Seorang kawan mengakui bahwa ia lupa untuk mengirimkan proposal pengajuan penawaran balik ke perusahaan rekanan. Karena waktunya terlambat dari dateline yang telah ditentukan, proposal penawaran yang dikirim secara menyusul pun menjadi tidak berarti. Alhasil, proposal pun ditolak. Sang rekan pun dipanggil oleh atasan menanyakan mengapa keterlambatan bisa terjadi. Dengan menyesal sang rekan mengatakan bahwa ia benar-benar lupa untuk melakukan hal itu karena terfokus oleh pekerjaan lain. Apapun alasannya, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan. Dengan penuh tanggung jawab, sang rekan pun mengakui kesalahannya dan siap menerima konsekuensi dari perusahaannya.
Apa yang dilakukan sang rekan tersebut sudah benar, bahwa ia tidak lari dari tanggung jawab. Pada saat itulah, sebenarnya kita ditantang untuk mengakui kesalahan, dengan taruhannya: diberi kesempatan sekali lagi untuk tetap bekerja di kantor itu, atau surat pemutusan hubungan kerja yang akan diberikan pihak manajemen.
Sebuah pilihan yang sulit tentu saja. Namun, marilah kita jujur pada nurani kita sendiri. Saat sekali dalam hidup, kita mengakui kesalahan yang kita lakukan, di lain waktu kita akan terjaga untuk tidak mengulanginya. Tentunya karena kita paham, akibat dari kesalahan yang kita lakukan dapat berakibat buruk pada orang lain. Namun, bila kita terbiasa untuk enggan mengakui kesalahan, sudah barang tentu, kesalahan-kesalahan akan kerap terus dilakukan, sambil otak terus berpikir untuk mencari kambing hitam yang bisa menjadi sasaran kesalahan.
Pada akhirnya, pilihan yang kita ambil, menunjukkan jati diri dan kualitas kita yang sebenarnya. (070708)
Sumber: Mengakui Kesalahan oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
Senin, Mei 26, 2008
Inspire Your Life: Bob Sadino and Rosihan Anwar
Orang-orang terkenal di indonesia ini memang bermacam-macam, tapi barangkali banyak mempunyai kesamaan ciri. Seorang tokoh seperti Rosihan Anwar dan Pengusaha Bob Sadino, di masa tuanya justru lebih semangat menghadapi hidup ini. Apa sih rahasia mereka?Dalam Kick Andy (22/05) Bob Sadino mengatakan bahwa kunci terhindar dari stress dalam hidup ini adalah Ikhlas. Tentunya ia bermaksud ikhlas memberi dan menerima takdir. Pengusaha yang kesehariannya suka memakai celana pendek ini ternyata tetap rendah diri walau dia termasuk dalam deretan pengusaha yang sukses menjalankan bisnis swalayan dan perkebunan. Dengan penuh kerendahan diri dia berkata, saya tidak mempunyai ilmu tapi punya pengalaman. Dan pengalaman itulah yang akan saya share kepada generasi muda. Sedikit keprihatinan terlintas di wajahnya mengingat satu juta sarjana di luar sana tidak punya kesempatan bekerja. Apa yang salah dalam sistem pendidikan kita?Lain halnya Rosihan Anwar, wartawan senior yang telah mendedikasikan hidupnya selama 65 tahun pada media ini mempunyai motto bersyukur terhadap apa yang telah dicapai. Pria sepuh kelahiran 1922 ini hingga kini telah menghasilkan 42 karya berbentuk buku. Dan anehnya, hingga saat ini beliau masih menulis karya-karyanya menggunakan mesik ketik kuno yang sudah banyak ditinggalkan banyak orang. Namun, kecerdasan otaknya tidak dapat ditutupi dengan kesederhanaannya.Sungguh kisah-kisah orang seperti ini yang yang dapat membuat generasi muda Indonesia bangkit. Semoga..
Arif Syibromalizi, Lc.
Arif Syibromalizi, Lc.
Rabu, Mei 14, 2008
Sang Tunanetra Yang Luar Biasa
Hidup adalah pembelajaran tanpa henti. Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu, jika kita telaah lebih jauh, selalu menjadi momen pembelajaran. Baik itu berupa halangan, rintangan, tantangan, atau berbagai kejadian apa pun yang kita temui. Jika bisa disikapi dengan cara yang bijak, maka selalu ada sisi positif yang bisa kita ambil sebagai bagian proses belajar.
Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya. Jika tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan pun tak akan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif.
Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema "If Better is Possible, Good is Not Enough". Ketika acara, saya mendapat "pelajaran" yang sangat berharga. Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra.
Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk berkarya. Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan.
Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses memang hak siapa saja, "Success is my right!" Ia adalah contoh nyata orang yang bisa "melihat" dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan, sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.
Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri.
Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, "Kita dapat melakukan apa pun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan. " Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.
Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja (maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat?
Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan. Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action, kita buktikan diri mampu menjemput semua impian.
Salam sukses Luar Biasa!!!
Sumber: Sang Tunanetra Yang Luar Biasa oleh Andrie Wongso
Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya. Jika tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan pun tak akan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif.
Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema "If Better is Possible, Good is Not Enough". Ketika acara, saya mendapat "pelajaran" yang sangat berharga. Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra.
Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk berkarya. Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan.
Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses memang hak siapa saja, "Success is my right!" Ia adalah contoh nyata orang yang bisa "melihat" dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan, sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.
Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri.
Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, "Kita dapat melakukan apa pun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan. " Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.
Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja (maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat?
Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan. Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action, kita buktikan diri mampu menjemput semua impian.
Salam sukses Luar Biasa!!!
Sumber: Sang Tunanetra Yang Luar Biasa oleh Andrie Wongso
Rabu, April 09, 2008
Jeritan hati seorang Ibu..
Kalau aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.
Kalau pakaianku terciprat sup,kalau aku lupa bagaimana mengikat sepatu,ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Kalau aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatuyang telah bosan kau dengar,bersabarlah mendengarkan,janganlah memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil,aku selalu harus mengulang ceritayang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.
Kalau aku memerlukanmu untuk memandikanku,janganlah marah padaku.Ingatlah sewaktu kecil aku harus memakaisegala cara untuk membujukmu mandi?
Kalau aku tak paham sedikitpun tentang tehnologidan hal-hal baru, jangan mengejekku.Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabarmenjawab setiap "mengapa" darimu.
Kalau aku tak dapat berjalan,ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.Seperti aku memapahmu saat kaubelajar berjalan waktu masih kecil.
Kalau aku seketika melupakan pembicaraan kita,berilah aku waktu untuk mengingat.Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Kalau kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketikakamu mulai belajar menjalani kehidupan.Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.Beri aku cintamu dan kesabaran,aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu
Kalau pakaianku terciprat sup,kalau aku lupa bagaimana mengikat sepatu,ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Kalau aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatuyang telah bosan kau dengar,bersabarlah mendengarkan,janganlah memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil,aku selalu harus mengulang ceritayang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.
Kalau aku memerlukanmu untuk memandikanku,janganlah marah padaku.Ingatlah sewaktu kecil aku harus memakaisegala cara untuk membujukmu mandi?
Kalau aku tak paham sedikitpun tentang tehnologidan hal-hal baru, jangan mengejekku.Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabarmenjawab setiap "mengapa" darimu.
Kalau aku tak dapat berjalan,ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.Seperti aku memapahmu saat kaubelajar berjalan waktu masih kecil.
Kalau aku seketika melupakan pembicaraan kita,berilah aku waktu untuk mengingat.Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Kalau kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketikakamu mulai belajar menjalani kehidupan.Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.Beri aku cintamu dan kesabaran,aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu
Langganan:
Postingan (Atom)