Judul Buku : Arkanul Islam
Karya : Dr. Abdullah Mahmud Syahatah
Penerbit : Maktabah al-Usrah, Kairo Mesir
Dilandasi sebuah hadits Nabi Muhammad yang sangat masyhur: "Islam dibangun atas lima pondasi; persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan dan haji", penulis buku ini, Abdullah Syahatah melihat urgensitas umat Islam mempelajarinya.
Secara ringkas, penulis mendeskripsikan lima pondasi ini dalam mukaddimahnya. Pondasi pertama; pengakuan terhadap eksistensi dan keesaan Allah serta Muhammad adalah utusan Allah yang telah menjalankan misi dan amanat yang telah diembankan kepadanya.
Pondasi kedua; shalat sebagai ikatan jiwa antara khalik dengan makhluk-Nya. Shalat adalah ibadah yang dapat menghadirkan kebesaran Tuhan di hati manusia. Di samping shalat jamaah dan jum'ah yang dapat dijadikan simbol ikatan dan persatuan kaum muslimin, juga sebagai sarana untuk saling mengenal dan bekerjasama. Shalat juga dapat menyucikan diri dari perbuatan maksiat.
Pondasi ketiga; zakat adalah aturan Tuhan yang mengandung pendidikan bagi orang kaya, kasih sayang terhadap fakir miskin, pensyukuran nikmat Allah dan sarana untuk mencegah manusia terjerumus ke dalam berbagai penyakit jiwa seperti iri dan pelit.
Pondasi keempat; puasa adalah sarana untuk mendidik jiwa dan membebaskannya dari lingkaran nafsu. Sebagai bentuk pengendalian diri dari segala keinginan serta membebaskan hati dari sifat egoisme. Dan menjadi orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah.
Pondasi kelima; haji adalah konferensi terbesar yang mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia tanpa membedakan jenis, ras dan warna kulit. Dengan berkumpulnya umat Islam di satu tempat, bersama-sama dalam berdoa, menjadi sarana untuk memperkuat tauhid.
Menjadi jelaslah bahwa tujuan dari lima pondasi Islam itu tidak lain adalah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan manusia, karena seluruh pondasi itu merupakan sarana dan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Buku ini memuat lengkap keempat ibadah di atas, yaitu shalat, zakat, puasa dan haji dengan penjelasan yang konkrit dan jauh dari kesan bertele-tele. Sehingga buku ini sangat cocok sekali bagi orang yang ingin mengetahui dan mendalami ibadah-badah dalam Islam.
Dalam daftar isi buku, penulis terlihat sangat ingin menjelaskan berbagai ibadah-ibadah itu dengan detail agar pembaca mendapatkan referensi yang komprehensif dan integral.
Arif Syibromalizi, Lc.
Selasa, Agustus 05, 2008
Rabu, Juli 16, 2008
Mengakui Kesalahan
"Saya melakukan sebuah kesalahan dengan melakukan hubungan tak sepantasnya dengan Lewinsky. Dalam kenyataannya, itu adalah sebuah kesalahan. Saya telah menyesatkan banyak orang, termasuk istri saya sendiri. Saya sangat menyesal."-- Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat
SENGAJA atau tidak, kesalahan telah dilakukannya. Tak ada jalan lain, dia harus mengambil keputusan. Akhir Mei lalu, Menteri Luar Negeri Kanada, Maxime Bernier memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Bernier, entah sengaja atau teledor, telah meninggalkan dokumen rahasia di rumah bekas kekasihnya. Terlalu sulit untuk mencari tahu bagaimana sebuah dokumen rahasia bisa jalan-jalan sampai ke rumah bekas pacarnya. Lagi pula, itu tidaklah penting. Entah apa motifnya, itu juga gelap. Yang jelas, sang bos, Perdana Menteri Kanada Stephen Harper marah besar dengan kesalahan yang dilakukan anak buahnya itu. ”Itu kesalahan amat serius yang dilakukan seorang menteri. Kami harus selalu menerima tanggung jawab atas dokumen rahasia. Menteri langsung mengakui betapa beratnya kesalahan ini."
Di dalam media cetak dan elektronik di sana, berita tentang pengunduran diri Bernier menjadi isu utama. Bernier pun mengakui kesalahan fatal yang dilakukannya. Namun tentu tak semudah itu keputusan tersebut diambil. Keteledoran, apa pun sebabnya, tentu akan membuat banyak perkara dalam hidup seseorang. Dengan keputusan itu, Bernier telah mengambil segala risiko: malu pada keluarga, diledek lawan politik, dan tentu saja karir politiknya, yang sudah jelas dibangun dalam jangka waktu yang tidak sebentar, ambruk seketika.
Harus diakui, mengakui kesalahan bukanlah perkara yang mudah. Coba sekarang benamkan diri kita masing-masing pada peristiwa yang telah berlalu. Semisal ketika seorang teman yang kena damprat orang tuanya gara-gara kelakuan kita. Di masa muda, tentu kita pernah pergi ke pesta ulang tahun kawan. Saat kita yang sedang berpesta, tentu tak ingin kawan-kawan pulang lebih dulu. Akhirnya, kita tahan mereka. Namun, di luar pengetahuan kita, keesokan harinya, kita tahu seseorang dari mereka kena damprat papa dan mamanya karena pulang larut malam. Nah, apakah kita mau mendatangi rumah orang tuanya, lalu menjelaskan semuanya dan mengakui semua kesalahan itu berawal dari keinginan kita karena menahannya pulang. Banyak dampaknya dari pengakuan kita itu. Boleh jadi, kita malah kena damprat pula atau dianggap sebagai biang keladinya.
Dalam pekerjaan sehari-hari pun sebuah kesalahan bisa terjadi. Seorang kawan mengakui bahwa ia lupa untuk mengirimkan proposal pengajuan penawaran balik ke perusahaan rekanan. Karena waktunya terlambat dari dateline yang telah ditentukan, proposal penawaran yang dikirim secara menyusul pun menjadi tidak berarti. Alhasil, proposal pun ditolak. Sang rekan pun dipanggil oleh atasan menanyakan mengapa keterlambatan bisa terjadi. Dengan menyesal sang rekan mengatakan bahwa ia benar-benar lupa untuk melakukan hal itu karena terfokus oleh pekerjaan lain. Apapun alasannya, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan. Dengan penuh tanggung jawab, sang rekan pun mengakui kesalahannya dan siap menerima konsekuensi dari perusahaannya.
Apa yang dilakukan sang rekan tersebut sudah benar, bahwa ia tidak lari dari tanggung jawab. Pada saat itulah, sebenarnya kita ditantang untuk mengakui kesalahan, dengan taruhannya: diberi kesempatan sekali lagi untuk tetap bekerja di kantor itu, atau surat pemutusan hubungan kerja yang akan diberikan pihak manajemen.
Sebuah pilihan yang sulit tentu saja. Namun, marilah kita jujur pada nurani kita sendiri. Saat sekali dalam hidup, kita mengakui kesalahan yang kita lakukan, di lain waktu kita akan terjaga untuk tidak mengulanginya. Tentunya karena kita paham, akibat dari kesalahan yang kita lakukan dapat berakibat buruk pada orang lain. Namun, bila kita terbiasa untuk enggan mengakui kesalahan, sudah barang tentu, kesalahan-kesalahan akan kerap terus dilakukan, sambil otak terus berpikir untuk mencari kambing hitam yang bisa menjadi sasaran kesalahan.
Pada akhirnya, pilihan yang kita ambil, menunjukkan jati diri dan kualitas kita yang sebenarnya. (070708)
Sumber: Mengakui Kesalahan oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
SENGAJA atau tidak, kesalahan telah dilakukannya. Tak ada jalan lain, dia harus mengambil keputusan. Akhir Mei lalu, Menteri Luar Negeri Kanada, Maxime Bernier memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Bernier, entah sengaja atau teledor, telah meninggalkan dokumen rahasia di rumah bekas kekasihnya. Terlalu sulit untuk mencari tahu bagaimana sebuah dokumen rahasia bisa jalan-jalan sampai ke rumah bekas pacarnya. Lagi pula, itu tidaklah penting. Entah apa motifnya, itu juga gelap. Yang jelas, sang bos, Perdana Menteri Kanada Stephen Harper marah besar dengan kesalahan yang dilakukan anak buahnya itu. ”Itu kesalahan amat serius yang dilakukan seorang menteri. Kami harus selalu menerima tanggung jawab atas dokumen rahasia. Menteri langsung mengakui betapa beratnya kesalahan ini."
Di dalam media cetak dan elektronik di sana, berita tentang pengunduran diri Bernier menjadi isu utama. Bernier pun mengakui kesalahan fatal yang dilakukannya. Namun tentu tak semudah itu keputusan tersebut diambil. Keteledoran, apa pun sebabnya, tentu akan membuat banyak perkara dalam hidup seseorang. Dengan keputusan itu, Bernier telah mengambil segala risiko: malu pada keluarga, diledek lawan politik, dan tentu saja karir politiknya, yang sudah jelas dibangun dalam jangka waktu yang tidak sebentar, ambruk seketika.
Harus diakui, mengakui kesalahan bukanlah perkara yang mudah. Coba sekarang benamkan diri kita masing-masing pada peristiwa yang telah berlalu. Semisal ketika seorang teman yang kena damprat orang tuanya gara-gara kelakuan kita. Di masa muda, tentu kita pernah pergi ke pesta ulang tahun kawan. Saat kita yang sedang berpesta, tentu tak ingin kawan-kawan pulang lebih dulu. Akhirnya, kita tahan mereka. Namun, di luar pengetahuan kita, keesokan harinya, kita tahu seseorang dari mereka kena damprat papa dan mamanya karena pulang larut malam. Nah, apakah kita mau mendatangi rumah orang tuanya, lalu menjelaskan semuanya dan mengakui semua kesalahan itu berawal dari keinginan kita karena menahannya pulang. Banyak dampaknya dari pengakuan kita itu. Boleh jadi, kita malah kena damprat pula atau dianggap sebagai biang keladinya.
Dalam pekerjaan sehari-hari pun sebuah kesalahan bisa terjadi. Seorang kawan mengakui bahwa ia lupa untuk mengirimkan proposal pengajuan penawaran balik ke perusahaan rekanan. Karena waktunya terlambat dari dateline yang telah ditentukan, proposal penawaran yang dikirim secara menyusul pun menjadi tidak berarti. Alhasil, proposal pun ditolak. Sang rekan pun dipanggil oleh atasan menanyakan mengapa keterlambatan bisa terjadi. Dengan menyesal sang rekan mengatakan bahwa ia benar-benar lupa untuk melakukan hal itu karena terfokus oleh pekerjaan lain. Apapun alasannya, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan. Dengan penuh tanggung jawab, sang rekan pun mengakui kesalahannya dan siap menerima konsekuensi dari perusahaannya.
Apa yang dilakukan sang rekan tersebut sudah benar, bahwa ia tidak lari dari tanggung jawab. Pada saat itulah, sebenarnya kita ditantang untuk mengakui kesalahan, dengan taruhannya: diberi kesempatan sekali lagi untuk tetap bekerja di kantor itu, atau surat pemutusan hubungan kerja yang akan diberikan pihak manajemen.
Sebuah pilihan yang sulit tentu saja. Namun, marilah kita jujur pada nurani kita sendiri. Saat sekali dalam hidup, kita mengakui kesalahan yang kita lakukan, di lain waktu kita akan terjaga untuk tidak mengulanginya. Tentunya karena kita paham, akibat dari kesalahan yang kita lakukan dapat berakibat buruk pada orang lain. Namun, bila kita terbiasa untuk enggan mengakui kesalahan, sudah barang tentu, kesalahan-kesalahan akan kerap terus dilakukan, sambil otak terus berpikir untuk mencari kambing hitam yang bisa menjadi sasaran kesalahan.
Pada akhirnya, pilihan yang kita ambil, menunjukkan jati diri dan kualitas kita yang sebenarnya. (070708)
Sumber: Mengakui Kesalahan oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
Senin, Mei 26, 2008
Inspire Your Life: Bob Sadino and Rosihan Anwar
Orang-orang terkenal di indonesia ini memang bermacam-macam, tapi barangkali banyak mempunyai kesamaan ciri. Seorang tokoh seperti Rosihan Anwar dan Pengusaha Bob Sadino, di masa tuanya justru lebih semangat menghadapi hidup ini. Apa sih rahasia mereka?Dalam Kick Andy (22/05) Bob Sadino mengatakan bahwa kunci terhindar dari stress dalam hidup ini adalah Ikhlas. Tentunya ia bermaksud ikhlas memberi dan menerima takdir. Pengusaha yang kesehariannya suka memakai celana pendek ini ternyata tetap rendah diri walau dia termasuk dalam deretan pengusaha yang sukses menjalankan bisnis swalayan dan perkebunan. Dengan penuh kerendahan diri dia berkata, saya tidak mempunyai ilmu tapi punya pengalaman. Dan pengalaman itulah yang akan saya share kepada generasi muda. Sedikit keprihatinan terlintas di wajahnya mengingat satu juta sarjana di luar sana tidak punya kesempatan bekerja. Apa yang salah dalam sistem pendidikan kita?Lain halnya Rosihan Anwar, wartawan senior yang telah mendedikasikan hidupnya selama 65 tahun pada media ini mempunyai motto bersyukur terhadap apa yang telah dicapai. Pria sepuh kelahiran 1922 ini hingga kini telah menghasilkan 42 karya berbentuk buku. Dan anehnya, hingga saat ini beliau masih menulis karya-karyanya menggunakan mesik ketik kuno yang sudah banyak ditinggalkan banyak orang. Namun, kecerdasan otaknya tidak dapat ditutupi dengan kesederhanaannya.Sungguh kisah-kisah orang seperti ini yang yang dapat membuat generasi muda Indonesia bangkit. Semoga..
Arif Syibromalizi, Lc.
Arif Syibromalizi, Lc.
Rabu, Mei 14, 2008
Sang Tunanetra Yang Luar Biasa
Hidup adalah pembelajaran tanpa henti. Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu, jika kita telaah lebih jauh, selalu menjadi momen pembelajaran. Baik itu berupa halangan, rintangan, tantangan, atau berbagai kejadian apa pun yang kita temui. Jika bisa disikapi dengan cara yang bijak, maka selalu ada sisi positif yang bisa kita ambil sebagai bagian proses belajar.
Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya. Jika tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan pun tak akan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif.
Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema "If Better is Possible, Good is Not Enough". Ketika acara, saya mendapat "pelajaran" yang sangat berharga. Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra.
Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk berkarya. Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan.
Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses memang hak siapa saja, "Success is my right!" Ia adalah contoh nyata orang yang bisa "melihat" dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan, sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.
Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri.
Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, "Kita dapat melakukan apa pun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan. " Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.
Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja (maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat?
Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan. Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action, kita buktikan diri mampu menjemput semua impian.
Salam sukses Luar Biasa!!!
Sumber: Sang Tunanetra Yang Luar Biasa oleh Andrie Wongso
Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya. Jika tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan pun tak akan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif.
Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema "If Better is Possible, Good is Not Enough". Ketika acara, saya mendapat "pelajaran" yang sangat berharga. Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra.
Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk berkarya. Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan.
Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses memang hak siapa saja, "Success is my right!" Ia adalah contoh nyata orang yang bisa "melihat" dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan, sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.
Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri.
Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, "Kita dapat melakukan apa pun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan. " Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.
Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja (maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat?
Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan. Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action, kita buktikan diri mampu menjemput semua impian.
Salam sukses Luar Biasa!!!
Sumber: Sang Tunanetra Yang Luar Biasa oleh Andrie Wongso
Rabu, April 09, 2008
Jeritan hati seorang Ibu..
Kalau aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.
Kalau pakaianku terciprat sup,kalau aku lupa bagaimana mengikat sepatu,ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Kalau aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatuyang telah bosan kau dengar,bersabarlah mendengarkan,janganlah memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil,aku selalu harus mengulang ceritayang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.
Kalau aku memerlukanmu untuk memandikanku,janganlah marah padaku.Ingatlah sewaktu kecil aku harus memakaisegala cara untuk membujukmu mandi?
Kalau aku tak paham sedikitpun tentang tehnologidan hal-hal baru, jangan mengejekku.Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabarmenjawab setiap "mengapa" darimu.
Kalau aku tak dapat berjalan,ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.Seperti aku memapahmu saat kaubelajar berjalan waktu masih kecil.
Kalau aku seketika melupakan pembicaraan kita,berilah aku waktu untuk mengingat.Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Kalau kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketikakamu mulai belajar menjalani kehidupan.Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.Beri aku cintamu dan kesabaran,aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu
Kalau pakaianku terciprat sup,kalau aku lupa bagaimana mengikat sepatu,ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Kalau aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatuyang telah bosan kau dengar,bersabarlah mendengarkan,janganlah memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil,aku selalu harus mengulang ceritayang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.
Kalau aku memerlukanmu untuk memandikanku,janganlah marah padaku.Ingatlah sewaktu kecil aku harus memakaisegala cara untuk membujukmu mandi?
Kalau aku tak paham sedikitpun tentang tehnologidan hal-hal baru, jangan mengejekku.Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabarmenjawab setiap "mengapa" darimu.
Kalau aku tak dapat berjalan,ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.Seperti aku memapahmu saat kaubelajar berjalan waktu masih kecil.
Kalau aku seketika melupakan pembicaraan kita,berilah aku waktu untuk mengingat.Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Kalau kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketikakamu mulai belajar menjalani kehidupan.Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.Beri aku cintamu dan kesabaran,aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu
Rabu, Februari 20, 2008
Berpikir Positif Dalam Melayani
Berpikir positif! Berpikir positif! Kalimat itu sering sekali
didengar di kantor. Berulang-ulang. Apa pun yang terjadi, selalu
berpikir positif! Apalagi atasan Neni. Beliau paling suka mengucapkan
kalimat tersebut. Neni sih senang-senang saja mendengar kalimat
tersebut. Betul juga sih. Manusia harus selalu berpikir positif.
Kalau berpikir negatif terus, bisa-bisa wajah jadi kusut dan cepat
tua.
Namun, tadi pagi, ada suatu peristiwa yang membuat Neni merasa tidak
bisa lagi berpikir positif. Seorang pelanggan setia datang ke kantor.
Beliau memang sering berkunjung. Sebagai petugas customer service,
Neni menyambutnya, mempersilakan duduk dan menawarkan bantuan. Tidak
seperti biasanya, pelanggan itu tidak bersikap santai dan gembira,
tetapi dia datang dengan wajah kusut. Tanpa senyum lagi.
Neni tetap tenang. Setelah duduk, dia menawarkan minuman yang dijawab
dengan gelengan kepala. Lalu tiba-tiba dia marah-marah. Neni sendiri
masih bingung dan belum mengerti permasalahannya. Neni masih belum
mengerti mengapa pelanggan ini marah-marah. Namun, dia tidak diberi
kesempatan bertanya. Jangankan bertanya, mau mulai berbicara saja
sudah langsung dipotong. Orang itu tidak berhenti marah-marah.
"Perusahaan macam apa ini? Tidak profesional! .Tahu ga mbak, saya
tidak suka bekerja sama atau berhubungan dengan orang yang tidak
profesional. Di kantor saya, semua bekerja secara profesional! Padahal
karyawan saya 200 orang mbak. Namun, tidak ada yang mempemalukan
perusahaan.. ......."
Neni masih belum mengerti juga. Mungkin ekspresi wajah Neni tampak
masih bingung dan tidak menanggapi sesuai harapan pelanggan tadi,
maka orang itu semakin marah. Bahkan, kini mulai tampak menyerang
Neni. "Kok bengong sih mbak?" Neni terkejut mendengar perkataan orang
itu dan tidak bisa menjawab apa-apa. "Wah, pantas perusahaannya tidak
profesional. Karyawannya saja begini!", kata orang itu, lalu dia
pergi.
Neni masih bengong sambil memandangi tamunya pergi. Perlahan-lahan
mulailah emosinya muncul. Rasanya sakit hati sekali. Kurang ajar!
Memangnya siapa sih dia??? Neni sangat kesal. Betul-betul sakit hati.
Kasar amat ngomongnya. Neni sampai tidak tahan, lalu dia masuk ke
dalam. Di depan gudang belakang dia menangis.
Kebetulan atasan Neni mendengar kejadian tersebut. Beliau langsung
mencari Neni dan akhirnya menemukannya di depan gudang. Beliau
mendekat dan berkata:" Dia bukan marah ke kamu."
Sambil menangis Neni menjawab: "Ke saya kok pak. Di sana tidak ada
orang lain."
"Ya. Tapi dia bukan marah ke kamu."
"Jadi marah kepada siapa kalau bukan marah ke saya?" tanya Neni.
"Mungkin dia marah kepada dirinya sendiri, mungkin marah kepada
perusahaan tempatnya bekerja, mungkin juga marah kepada atasannya,
atau mungkin dia ada masalah pribadi yang kita tidak tahu. Sebenarnya
dia patut dikasihani," kata atasannya.
Neni diam saja. Huh! Tapi kemudian Neni menurut ketika disuruh cuci
muka dan memakai bedak lagi lalu kembali ke mejanya. Tentu saja Neni
tidak bisa kerja lagi seperti biasa. Masih kesal. Padahal hari masih
pagi, baru pukul 8.30.
Unek-unek
Saat itulah saya datang ke kantor Neni. Saya kenal baik dengan semua
karyawan di sana karena saya rutin memberikan pelatihan di perusahaan
tersebut. Melihat wajahnya yang tidak biasa, saya bertanya. Karena
masih kesal maka Neni menceritakan semua unek-uneknya.
Saat itu saya teringat satu peristiwa yang pernah saya alami. Ketika
anak saya baru berusia tiga tahun, seperti biasa kami pulang kampung
naik pesawat. Dalam pesawat, saya dan anak saya mendapat tempat duduk
dekat gang, bukan dekat jendela. Padahal anak saya suka sekali duduk
dekat jendela. Maklumlah anak kecil. Tapi di dekat jendela telah
duduk seorang bapak.
Karena anak saya merengek minta pindah, saya mencoba bertanya kepada
bapak itu:"Selamat pagi pak. Maaf pak, apakah boleh tukar tempat
duduk? Anak saya ingin duduk dekat jendela." Tapi bapak itu diam
saja. Saya mengira dia tidak mendengar, maka saya ulangi lagi: "Pak,
maaf. Apakah boleh bertukar tempat duduk?", dia masih diam saja.
Sebentar kemudian dia berkata dengan ketus dan singkat "Ga kelihatan
apa-apa." Saya tersenyum sambil berkata: "Yah lumayan lah pak, bisa
lihat awan. Atau kalau sedang lepas landas, kan bisa melihat keluar
jendela."
Tiba-tiba dia membentak:"Tidak kelihatan apa-apa! Saya kan sering
terbang."
Waktu itu saya juga terpancing sehingga saya berkata "Saya juga
sering terbang." Lalu saya diam.
Kemudian saya minta pindah ke kursi di belakang yang kebetulan kosong
sehingga anak saya bisa duduk dekat jendela. Lalu pramugarinya
bertanya "Kenapa pindah bu?". Saya jawab "Saya malas di sebelah bapak
itu."
Lalu pramugarinya bekata "Iya sih bu. Biasanya tidak ada orang yang
mau duduk di sebelahnya. Namun, dia adalah pelanggan setia kami. Tiap
minggu dia dua kali terbang ke Jakarta, dan selalu naik pesawat ini."
Yang membuat saya kagum adalah sikap pramugari tadi kepada saya dan
kepada bapak itu ternyata sama persis. Sama ramahnya.
Saya ceritakan kepada Neni, lalu saya tambahkan "Pramugari tadi tidak
membiarkan perasaan dan pelayanannya dipengaruhi oleh sikap orang
lain. Dia selalu berpikir positif." What about you?
Sumber: Berpikir Positif Dalam Melayani oleh Lisa Nuryanti, Managing
Director Expands Consulting
Senin, Oktober 01, 2007
Hidup Ini Indah
Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai. Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia....." Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir..... "Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya. "Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia "Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu". Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang.... "Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan Cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya... Ia menunduk dan menangis..... Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.
Langganan:
Postingan (Atom)